Pendidikan
Pancasila
Salah satu contoh warisan nenek moyang berupa permainan
tradisional anak yang telah di lupakan. Salah satunya adalah permainan congklak,
biasanya disebut dakon. Permainan ini bisa dibilang sudah punah dikarenakan
anak-anak generasi saat ini lebih suka bermain game online yang terdapat pada
gadget mereka, situasi seperti ini jelas saja berpengaruh buruk terhadap generasi
penerus bangsa kita, karena dengan kita bermain game online rasa kebersamaan
hilang begitu saja dan selalu mengutamakan individualisme. Dikarenakan kita
sering bermain sendiri di waktu senggang kita bahkan sampai lupa makan, mandi, ataupun
belajar yang sudah menjadi tugas kita sebagai seorang pelajar.
Congklak yaitu permainan yang dimainkan oleh 2 orang. Alat yang digunakan yaitu papan congklak yang berisi 16 lubang, dimana 14 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar di kedua ujungnya. Papan congklak ini diisi oleh biji pada setiap lubangnya. Biji congklak yang digunakan bisa dari biji-bijian, batu kecil, kuwuk (kerang), atau biji congklak yang terbuat dari plastik. Jumlah biji congklak seluruhnya adalah 98 biji. Masing-masing lubang yang kecil diisi oleh tujuh biji congklak. Lubang besar yang ada di sebelah kanan adalah lubang milik si pemain. Cara mainnya yaitu, salah satu pemain mengambil biji congklak dari lubang kecil kemudian diisikan pada lubang lain berlawanan arah jarum jam sampai habis. Apabila berakhir di lubang yang besar, maka pemain tersebut dapat mengambil kembali biji congklak dari lubang yang lain. Apabila berakhir di depan lubang lawan yang terisi biji congklak, maka si pemain dapat mengambil biji tersebut dan dimasukkan ke lubang yang besar miliknya. Begitulah seterusnya sampai semua biji pada lubang kecil habis. Pemenang dari permainan ini yaitu yang mendapat biji congklak terbanyak.
Ini adalah salah satu contoh permainan congklak/dakon yang kini sudah ditinggalkan (punah) termasuk di daerah kami
Nama Kelompok :
1. Achmad nur fadillah (1210651001)
2. Septian edi d.c (1210651044)
